Apa arti hidup yang baik bagi seorang Muslim? Apakah terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau popularitas di mata manusia? Imam Syahid Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buthi menjawabnya dengan satu kata yang dalam: Tazkiyatun Nafs — penyucian jiwa.
Tazkiyah bukan sekadar istilah klasik dalam buku-buku tasawuf. Ia adalah inti dari seluruh misi kenabian: menyucikan jiwa manusia agar ia hidup dalam ketundukan total kepada Allah. Jiwa yang tidak disucikan akan menjadi tempat subur bagi penyakit hati: sombong, ujub, cinta dunia, tamak pada jabatan dan pengaruh.
Iman akan terasa hampa jika dibiarkan bersanding dengan kotoran-kotoran hati ini.
“Tazkiyah adalah upaya menyingkirkan penghalang yang mengaburkan cahaya tauhid dalam hati.”
– Dr. Al-Buthi
Tauhid bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam azan atau doa. Ia harus menjadi kesadaran penuh bahwa Allah satu-satunya Dzat yang Maha Kuasa: yang memberi dan menahan, yang menciptakan dan mematikan.
Untuk mencapai ini, langkah pertama adalah dzikrullah: mengingat Allah secara terus-menerus, bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati dan akal. Caranya:
Sambungkan setiap nikmat dengan Pemberi Nikmat.
Lihat dunia dengan kacamata bahwa segala sebab hanyalah alat, bukan pelaku.
Hadirkan Allah dalam rasa syukur, harap, takut, dan cinta.
Inilah yang dilakukan Nabi SAW. Setiap kejadian adalah jendela untuk mengenal Allah lebih dekat.
Dalam dunia tasawuf, ada istilah fana’ (lupa terhadap makhluk karena sibuk dengan Sang Pencipta) dan baqa’ (kembali sadar tapi tetap dekat dengan Allah). Sebagian orang menjadikannya target spiritual.
Namun Al-Buthi menegaskan, bukan itu tujuannya.
Fana’ bisa jadi terjadi secara spontan, tapi jangan berhenti di sana. Tujuan akhir adalah kesadaran penuh untuk tunduk pada Allah sambil tetap menjalani dunia dengan seimbang dan sesuai syariat.
Bagaimana dengan Tingkatan Spiritual (Maqamat)?
Sering kita mendengar istilah: sabar, syukur, ridha, yakin. Apakah harus dicapai satu per satu?
Jawabannya: tidak. Al-Buthi mendorong kita untuk berjuang meraih semuanya sekaligus, sejak awal kita memulai perjalanan menyucikan jiwa.
Jangan menunggu waktu untuk yakin. Jangan menunggu ujian untuk sabar. Milikilah semuanya dengan memperbanyak dzikir dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Amalan Harian yang Direkomendasikan
Al-Buthi menutup nasehatnya dengan menyebut wirid harian yang beliau warisi dari ayahnya:
Syahadat (Laa ilaaha illallah)100x setelah subuh.
Tasbih: “Subhanallah wa bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim” 100x.
Shalawat kepada Nabi 100x.
Membaca surat Yasin di pagi hari.
Membaca wirid Imam Nawawi dan Al-Qur’an setiap hari.
Ini bukan sekadar rutinitas, tapi alat penyadaran ruhani. Kita tidak hanya menyebut Nama-Nya, tapi mengaitkan setiap detik kehidupan dengan Kehadiran-Nya.
Tazkiyah bukan ilmu yang hanya dipelajari di majelis, bukan pula “profesi spiritual.” Ia adalah cermin hubungan pribadi kita dengan Allah.
“Dulu tasawuf adalah hakikat tanpa nama. Hari ini, ia menjadi nama tanpa hakikat.”
– Ulama Salaf, dikutip Al-Buthi
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, artikel ini mengajak kita kembali menata jiwa, menyusun ulang prioritas, dan menjadikan hati sebagai ladang iman yang hidup.
Mulailah dengan dzikir. Lanjutkan dengan amal. Perkuat dengan niat yang ikhlas.
Karena hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa suci hati kita saat menghadap Ilahi.